Selasa, 13 Maret 2012

KAFAN DARI RASULULLAH


Seorang wanita datang kepada Rasulullah S.A.W. Ia menyerahkan kain yang ditenunnya sendiri dan diserahkan kepada Nabi S.A.W sebagai rasa cintanya kepada Rasul. Dengan senang hati rasulullah menerima pemberian itu dan memakainya. Dengan memakai kain pemberian wanita itu, Nai keluar menemui sahabatnya. Salah seorang daripada sahabat melihat begitu indahnya kain yang dipakai Nabi, lau berkata, "Wahai Rasulullah, alangkah indahnya kain yang engkau pakai itu. Betapa senangnya jika aku memakainya," ujarnya. 

"Baiklah," jawab Nabi S.A.W ringkas. 
Setelah keluar dari suatu majlis, Rasulullah S.A.W datang lagi ke tempat itu, tetapi tidak lagi menggunakan kain tenun yang baru dipakai itu. Kain pemberian wanita itu berlipat di tangannya, dan kemudian diserahkan kepada sahabat yang memujinya tadi. 
"Terimalah kain ini dan pakailah," ujar Rasululah S.A.W. 
Melihat peristiwa itu, ramai sahabat yang mencela lelaki itu. Kain pemberian wanita itu sangat disenangi Nabi kerana itu dipakainya, tetapi Nabi tidak pernah menolak permintaan seseorang. "Mengapa engkau masih memintanya ?" sungut para sahabat. 
Apa jawab sahabat yang meminta kain kepada Rasulullah S.A.W, "Saya minta kain itu bukan untuk saya pakai, melainkan untuk saya gunakan untuk kain kafanku."  

BALASAN TINGGAL SOLAT


Diriwayatkan bahawa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke dalam masjid dengan menangis.Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?"Maka berkata orang muda itu, "Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya."Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikut orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.s. mendapati ayah orang mudah itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam."

Kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.Apabila mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?"

Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mahu mengerjakan solat." Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan dibangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."Di zaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka cuba membunuh ular itu.

Apabila mereka cuba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha illallahu Muhammadu Rasulullah, menagapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyeksanya sehingga sampai hari kiamat."Lalu para sahabat bertanya, "Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?"Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, di antaranya :"

1. Apabila dia mendengar azan, dia tidak mahu datang untuk sembahyang berjamaah.
2. Dia tidak mahu keluarkan zakat hartanya.
3. Dia tidak mahu mendengar nasihat para ulama.

Kisah Nabi Zulkifli A.S – Cobaan Iblis


Kekosongan kursi raja segera ditempati oleh nabi Zulkifli yang merangkap sebagai hakim. Ia melaksanakan tugasnya dengan sangat baik dan adil. Di bawah kepemimpinannya, rakyat hidup senang, makmur, tentram, dan bahagia. Sejak menjabat sebagai raja, nabi Zulkifli senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaannya.
Pada suatu malam, seorang pembantu istana mengetuk pintu kamarnya perlahan. Pembantu istana tersebut memberitahu bahwa ada seorang warga yang datang meminta bantuan. Nabi Zulkifli pun segera menemuinya dan menanyakan persoalan yang sedang ia hadapi. Sang warga bercerita bahwa ia baru saja dirampok di jalanan. Saat warga tersebut bercerita, nabi Zulkifli merasakan adanya keganjilan. Daerah perampokan yang disebutnya merupakan daerah yang aman. Apalagi selama ini di negerinya tidak pernah terjadi tindak kejahatan.  Karena kecurigaannya yang besar, nabi Zulkifli menyuruh warga tersebut datang lagi pada pagi atau petang hari keesokan harinya. Namun orang itu tidak kunjung datang. Pada malam harinya, saat nabi Zulkifli sedang bersiap-siap tidur, orang itu datang lagi. Nabi Zulkifli pada saat itu sangat letih dan seharusnya sedang beristirahat. Tetapi dengan sabar ia menemui tamunya. “Mengapa saat siang atau petang anda tidak datang?” Tanya nabi Zulkifli. “Perampok itu sangat cerdik Tuanku, saat siang hari barang saya dikembalikan, namun di malam hari barang saya dirampasnya lagi.”
Pada suatu malam, nabi Zulkifli sangat lelah dan menyuruh pembantu istana menutup semua pintu dan menguncinya. Namun saat ia hendak tidur, terdengar suara pintu kamarnya diketuk, tapi ternyata tidak ada seorangpun disitu. Nabi Zulkifli memeriksa sekeliling istana, dan menemukan seseorang, padahal semua pintu masuk istana telah terkunci rapat. “Kau bukan manusia, kau pastilah iblis.” Kata Zulkifli. “Aku memang iblis yang ingin menguji kesabaranmu. Dan ternyata memang benar, kau adalah orang yang dapat memenuhi amanat.”
Memang demikianlah adanya, Zulkifli adalah nabi yang sabar, dapat menjaga amanat, dan tidak pernah marah kepada tamunya. Dikisahkan pada suatu hari terjadi peperangan antara negerinya dengan pemberontak yang durhaka terhadap Allah SWT. Nabi Zulkifli memerintahkan prajurit dan rakyatnya untuk pergi ke medan perang. Namun rakyatnya tidak mau memenuhi perintahnya karena mereka terlalu takut. Rakyatnya hanya mau berperang jika Zulkifli mau mendoakan agar Allah menjamin hidup mereka. Mendengar itu Zilkifli tidak lantas marah, bahkan ia bersedia memenuhi permintaan rakyatnya.  Akhirnya dalam peprangan itu mereka memperoleh kemenangan, dan sesuai doa Zulkifli tidak satupun dari mereka yang mati di medan juang.

Kisah Nabi Luth A.S


Luth adalah putera Haran bin Tarikh (Ayah dari Ibrahim A.S). Luth adalah putera saudara Ibrahim Khalilullah yang bernama Haran. Sebagaimana telah disebutkan, Ibrahim, Haran dan Nahur adalah saudara kandung.
Luth A.S pergi meninggalkan tempat tinggal pamannya, Ibrahim A.S atas perintah dan izin menuju ke sebuah daerah yang dikenal dengan Gharzaghar, lalu ia singgah di kota Sadum, yaitu ibukota Gharzaghar. Penduduk Gharzaghar terdiri dari orang-orang jahat dan kafir. Mereka sering melakukan perampokan dan melakukan berbagai kemungkaran.
Mereka melakukan kemungkaran dalam bentuk baru yang belum pernah dilakukan seorangpun sebelumnya, yaitu homoseksual (hubungan seksual sesama jenis). Lebih dari itu, mereka meninggalkan wanita dan menyerahkan mereka kepada orang-orang shalih saja.
Luth A.S menyeru mereka untuk menyembah Allah S.W.T serta melarang mereka mengerjakan perbuatan keji mereka. Luth A.S mengatakan kepada mereka, “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka) bukan kepada wanita.”
Jawab kaumnya, “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.”
Tahun demi tahun berlalu sedangkan Luth A.S tetap sabar berdakwah kepada kaumnya, menyerukan mereka agar beriman dan mengikuti jalan yang benar. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah puteri-puteri (negeri)ku, mereka lebih suci bagi kalian.” Namun penolakan terhadap seruan-seruan Luth semakin meningkat sehingga kaumnya mengatakan:
“Datangkanlah kami Azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”
Kemudian Luth berdoa kepada Allah agar menolongnya dan mendatangkan azab kepada kaumnya. Kemudian Allah S.W.T mengutus beberapa malaikat yang datang kepada Nabi Luth dalam sosok pemuda-pemuda yang tampan. Malaikat-malaikat tersebut sampai di pagar kota Sadum, dimana anak perempuan Luth A.S sedang mengambil air.
Salah satu malaikat bertanya kepada anak itu, “Wahai anak perempuan, apakah ada rumah disini?” Anak Nabi Luth tercengang melihat ketampanan orang-orang tersebut. Lalu ia menjawab: “Hendaklah kalian tetap disini sampai aku memberitahu ayahku, kemudian ayahku akan mendatangi kalian.”
Anak itu kemudian memberitahu ayahnya, “Ayahku, ada pemuda-pemuda yang ingin menemuimu di pintu kota. Aku belum pernah melihat wajah-wajah seperti mereka.” Setelah itu Luth bergegas menuju pintu kota dan menemui tamunya. Ketika Luth melihat wajah-wajah mereka, Luth A.S berkata kepada dirinya sendiri: “Ini adalah hari yang sangat sulit.”
Beliau bertanya kepada mereka: “Dari mana kalian datang dan apa tujuan kalian?” Para malaikat malah terdiam dan justru memintanya untuk menjamu mereka.” Kemudian beliau berjalan di depan mereka sedikit lalu beliau berhenti sambil menoleh kepada mereka dan berkata: “Saya belum mengetahui kaum yang lebih keji di muka bumi ini selain penduduk negeri ini.” Beliau mengatakan demikian dengan maksud agar mereka mengurungkan niat mereka untuk bermalam di negerinya. Namun mereka tidak peduli dengan ucapan Nabi Luth dan mereka tidak memberikan komentar atasnya.
Kemudian Nabi Luth dengan sangat berhati-hati membawa mereka ke rumahnya. Kegelapan mulai menyelimuti kota. Nabi Luth menemani tiga tamunya itu berjalan menuju rumahnya. Tak seorang pun dari penduduk kota yang melihat mereka. Namun isterinya melihat mereka sehingga ia keluar menuju kaumnya dan memberitahu mereka kejadian yang dilihatnya. Kemudian tersebarlah berita dengan begitu cepat dan selanjutnya kaum Nabi Luth beramai-ramai ke berkumpul di depan rumah beliau. Allah SWT berfirman:
“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya kerana kedatangan mereka, dan dia berkata: ‘Ini adalah hari yang amat sulit.’ Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergesa-gesa. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji.” (QS. Hud: 77-78)
Nabi Luth bertanya pada dirinya sendiri: “Siapa gerangan yang memberitahu mereka?” Kemudian ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari isterinya namun ia tidak menemuinya. Maka bertambahlah kesedihan Nabi Luth.
Nabi Luth berkata kepada kaumnya:
“Dia berkata: ‘Hai kaumku, inilah puteri-puteri (negeriku) mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal.” (QS. Hud: 78)
“Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah tahu bahawa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.’” (QS. Hud: 79)

Nabi Luth kemudian masuk kembali kedalam rumahnya dan berkata kepada dirinya sendiri:
‘Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).’” (QS. Hud: 80)
Pada saat itulah para malaikat berkata:
‘Hai Luth sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-sekali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu.” (QS. Hud: 81)
Lebih lanjut para malaikat itu memberitahukan kepada Luth A.S : “Sesungguhnya ia (kaum Nabi Luth) akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab adalah pada waktu Subuh. Bukankah waktu Subuh itu sudah dekat?”
Menurut ahlul kitab, para malaikat itu menyuruh Luth dan orang-orang beriman mendaki puncak gunung seraya berkata: “Pergilah, kami akan menunggumu sehingga engkau benar-benar sudah jauh dan aman.”
Allah berfirman:
“Maka ketika azab Kami datang, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tidak jauh dari orang-orang yang zalim.” (Huud 82-83)
Negeri itu diporak-porandakan oleh Jibril dengan menggunakan sayapnya. Negeri tersebut diangkat sampai ke langit kemudian dibalikkan dan dihujani dengan batu-batu sehingga seluruh penduduknya mati. Demikianlah azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth yang melampaui batas.
Moral cerita ini adalah sesuai dengan firman Allah S.W.T:
“Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah. Lalu Allah menimpakan atas negeri itu azab besar yang menimpanya. Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang mana kamu ragu-ragu?” (Al Najm 53-55)

Kisah Penyembelihan Ismail A.S


Allah S.W.T menceritakan tentang kekasih-Nya, Ibrahim A.S, yaitu setelah Ibrahim hijrah dari negeri kaumnya. Ibrahim meminta kepada Allah agar mengaruniakan kepadanya seorang anak yang shalih. Maka Allah pun memberikan kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang sabar, yaitu Ismail A.S. Ia adalah putera pertamanya yang lahir pada saat Ibrahim berusia 86 tahun.
Firman Allah S.W.T , “Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim,” yaitu sudah semakin besar dan mampu berusaha memenuhi kepentingannya sebagaimana halnya ayahnya.
Pada saat itulah Ibrahim bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih Ismail. Dalam hadits Ibnu Abbas disebutkan “Mimpi para nabi itu adalah wahyu.”
Hal ini merupakan ujian dari Allah untuk kekasih-Nya Ibrahim A.S. Kemudian Ibrahim menjelaskan hal itu kepada puteranya. “Ibrahim berkata, Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (Al Shaffaat 102)
Maka Ismail menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah, engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang-orang yang sabar.” Yang demikian itu merupakan jawaban yang benar-benar wujud ketaatan seorang anak kepada orang tua dan juga Tuhannya.
Allah berfirman, “Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya.”
Kemudian Ibrahim menggoreskan pedangnya pada leher anaknya. Pada saat itu, Allah berfirman: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.” artinya, maksud dari ujianmu ini telah tercapai. Dan engkau telah dengan segera memenuhi perintah Tuhanmu, serta engkau ikhlaskan anakmu sebagai korban, sebagaimana engkau juga telah memperkenankan badanmu disentuh api, dan sebagaimana kekayaanmu telah engkau keluarkan untuk dua tamu. Oleh karena itu Allah berfirman : “Sesungguhnya yang demikian ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (Al Shaffat 106)
Dan firman-Nya, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” Maksudnya, Allah mengganti penyembelihan puteranya dengan sesuatu yang lebih mudah baginya.
Maka dengan hal ini, Ibrahim dan Ismail A.S telah membuktikan kesabarannya sebagai Nabi Allah S.W.T

Kelahiran Nabi Ismail A.S dan asal-usul air zamzam


Setelah menetap di Baitul Maqdis selama 20 tahun, Sarah (Istri Ibrahim A.S) berkata kepada Ibrahim: “Menikahlah dengan wanita ini (Hajar), mudah-mudahan darinya Allah mengaruniakan anak untukku.”
Atas izin Sarah, maka Ibrahim pun menikahi Hajar hingga akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Ismail. Imam Bukhari meriwayatkan,
Setelah melahirkan Ismail, Ibrahim membawa Hajar dan puteranya menuju Mekkah yang ketika itu Ismail masih dalam keadaan menyusui. Hingga akhirnya Ibrahim menempatkan keduanya di sebuah rumah di samping pohon besar. Pada saat itu, di Mekkah tidak ada seorangpun dan tidak pula ada air. Ibrahim meninggalkan keduanya disana dan meletakkan bekal kurma dan air
Setelah itu Ibrahim berangkat dan diikuti oleh Hajar seraya berkata, “Hai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, apakah engkau akan meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak pula ada makanan?” Yang demikian itu diucapkannya berkali-kali, namun Ibrahim tidak menoleh sama sekali. Sampai akhirnya Hajar berkata kepadanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” “Ya,” jawab Ibrahim. “Kalau begitu kami tidak disia-siakan.” Dan setelah itu Hajar pun kembali.
Kemudian Ibrahim berangkat sehingga ketika sampai di Tsaniyah, dimana orang-orang tidak dapat melihatnya, ia menghadapkan wajahnya ke Baitullah, lalu mengucapkan beberapa doa sembari mengangkat kedua tangannya seraya berucap:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezeki kepada mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim 37)
Dan Hajar tetap menyusui Ismail dan minum dari air yang tersedia. Pada saat air yang ada dalam bejana telah habis, Hajar dan Ismail merasa kehausan. Lalu Hajar melihat puteranya itu sedang lemas dan ia tidak tega melihatnya. Maka ia pergi ke bukit Shafa, yaitu bukit yang paling dekat dari lokasi mereka. Lalu ia berdiri diatas bukit itu dan menghadap lembah sambil melihat-lihat adakah orang disana. Namun tidak ada seorangpun disana
Setelah itu ia turun kembali dari Shafa sehingga ketika sampai ditengah-tengah lembah, Hajar mengangkat bagian bawah bajunya dan kemudian berusaha keras sehingga ia berhasil melewati lembah. Lalu ia mendatangi Marwah dan berdiri disana seraya melihat-lihat apakah ada orang disana. Namun tetap tidak ada seorangpun disana. Hal ini ia lakukan sampai tujuh kali.
Setelah mendekati Marwah, ia mendengar suara yang menyerukan, “Diam,” yang dimaksudkan kepadanya. Lalu ia mencari suara itu, hingga akhirnya ia mendengar juga. Maka iapun berkata, “Aku telah mendengarmu, apakah engkau dapat memberikan bantuan.” Ternyata ia berada bersama malaikat ditempat dimana terdapat air Zamzam. Lalu malaikat itu mengais-ngais tanah hingga muncullah mata air zamzam.
Ibnu Abbas menceritakan, Rasulullah S.A.W bersabda:
“Semoga Allah memberikan rahmat kepada ibunya Ismail (Hajar). Seandainya ia tidak menceduk air zamzam, niscaya air zamzam itu hanya menjadi sumber air yang terbatas.”
Rasulullah S.A.W bercerita, kemudian Hajar minum dan menyusui puteranya. Kemudian malaikat berkata kepadanya, “Janganlah engkau takut disia-siakan, karena disini akan dibangun sebuah rumah oleh anak ini bersama dengan bapaknya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya.”
Setelah itu yang terjadi adalah, sekelompok orang datang ke Baitullah. Mereka melihat sekelompok burung berputar-putar di angkasa. Mereka berkata, “Burung itu pasti mengitari sumber air. Kita yakin bahwa di lembah ini ada air.” Lalu mereka berduyun-duyun menghampirinya.
Kemudian mereka bertemu Hajar dan berkata kepadanya, “Apakah engkau mengizinkan kami untuk tinggal di dekat airmu?” Hajar menjawab “Boleh saja, tetapi kalian tidak berhak menguasai air ini.” “Baiklah,” jawab mereka. Setelah kejadian ini, daerah sekitar air zamzam berkembang menjadi beberapa rumah lalu menjadi banyak rumah hingga akhirnya menjadi kota Mekkah
[disadur dari kisah para Nabi, karangan Ibnu Katsir]

Ibrahim A.S mencari Tuhan


Nama lengkap Nabi Ibrahim A.S adalah Ibrahim bin Tarikh(250) bin Nahur(148) bin Sarugh(230) bin Raghu(239) bin Faligh(439) bin Abir (464) bin Shalih(433) bin Arfakhsyadz(438) bin Saam (600) bin Nuh A.S. Beliau adalah keturunan Nabi Nuh a.s. Ibrahim dilahirkan di negeri Babilon. Kemudian, Ibrahim dan keluarganya berpindah  dan menetap di Hirran yang terletak di wilayah Caledonia. Pada zaman itu, semua orang di muka bumi ini kafir kecuali Ibrahim A.S, isterinya Sarah, dan keponakannya yaitu Nabi Luth A.S
Orang-orang pada zaman itu menyembah tujuh bintang, dan orang-orang yang membangun kota Damaskus dulu juga memeluk agama itu. Mereka berkiblat ke kutub selatan. Oleh karena itu, setiap pintu dari tujuh pintu kuno Damaskus memiliki gambar yang melambangkan ketujuh bintang. Dan untuk ketujuh bintang itu mereka juga mengadakan hari raya dan juga kurban. Demikian itulah penduduk Carrhae menyembah bintang dan berhala.
Semenjak kecil, keimanan Nabi Ibrahim telah terpelihara. Ibrahim A.S tidak mempercayai berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya. Bagi Ibrahim, berhala-berhala tersebut hanyalah patung yang tidak berakal, tidak dapat melihat, mendengar atau berkata-kata. Berhala-berhala itu adalah ciptaan manusia dan tidak mampu menolong orang-orang yang menyembahnya.

Ibrahim A.S sentiasa berfikir dan mencari-cari Tuhan yang sebenarnya. Ibrahim selalu memperhatikan kejadian alam seperti matahari, bulan dan bintang didalam usahanya mencari Tuhan. Allah berfirman di dalam Al-Quran, “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar,” maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”(6:75-78)

Selepas mendapat hidayah daripada Allah, Nabi Ibrahim semakin yakin dengan keimanannya. Ibrahim A.S mula menyampaikan dakwah kepada kaumnya. Nabi Ibrahim dengan terang-terangan akan menghina berhala-berhala di depan kaumnya. Pada suatu ketika, Nabi Ibrahim bersumpah di dalam hatinya, “Demi Allah! Aku akan bertindak (menghancurkan) berhala-berhala kamu sepeninggalan kamu nanti.”(21:57).
Kaum Nabi Ibrahim mempunyai satu hari perayaan di mana pada hari tersebut mereka akan pergi ramai-ramai berkumpul di tengah kota. Nabi Ibrahim telah merancang untuk memusnahkan berhala kaumnya ketika semua orang telah pergi ke tempat perayaan tersebut. Pada saat itu, ayah Nabi Ibrahim mengajaknya untuk mengikuti acara tersebut, Ibrahim menolak dan mengatakan bahawa beliau sedang sakit.
Setelah semua orang meninggalkan rumah mereka, Ibrahim telah menyelinap keluar dan menuju ke tempat penyembahan berhala dengan membawa sebuah kapak. Ibrahim mendapati berhala-berhala tersebut telah disusun sesuai aturan yang berlaku pada saat itu. Di tangan berhala-berhala tersebut terdapat berbagai makanan. Ibrahim berkata, “Apakah kamu tidak makan?Kenapa kamu tidak menjawab?Ibrahim segera bertindak menghancurkan berhala-berhala itu dengan tangan kanannya.”(37:91-93). Nabi Ibrahim telah memusnahkan semua berhala di situ dan hanya meninggalkan satu berhala yang paling besar. Kemudian, Ibrahim A.S meletakkan kapak yang digunakannya tadi di tangan berhala tersebut.
Ketika kaum Nabi Ibrahim sampai di lokasi perayaan, mereka sangat terkejut melihat berhala-berhala mereka hancur. Mereka bertanya-tanya siapakah yang berani menghancurkan berhala-berhala tersebut. Kebetulan terdapat beberapa orang yang pernah mendengar Nabi Ibrahim sering menghina berhala. Mereka menuntut agar Nabi Ibrahim ditangkap dan diinterogasi di hadapan khalayak ramai. Setelah semua orang ramai berkumpul dan Ibrahim di bawa ke hadapan mereka, kaumnya bertanya : “Ibrahim! Engkaukah yang menghancurkan tuhan-tuhan kami? Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika ia dapat berkata-kata.”(21:62-63)
Jawaban Nabi Ibrahim telah membuatkan kaumnya menyedari kelemahan berhala sesembahan mereka. Kemudian khalayak ramai mulai resah dan mereka terus berkata, “Engkau telah tahu bahwa patung itu tidak dapat berbicara dan menjawab. Mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?” Ibrahim dengan segera menjawab, “Kalau begitu kenapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak bermanfaat dan tidak mendatangkan mudarat sedikitpun bagimu?Ah! Celakalah kamu. Bagaimana kamu menyembah selain Allah, apakah kamu tidak berakal?”(21:66-67)
Jawaban Nabi Ibrahim itu membuat orang ramai dan para pembesar marah dan terhina. Mereka tidak tahu bagaimana untuk menyangkal hujjah (argumentasi) Nabi Ibrahim. Untuk menutup kelemahan mereka, Nabi Ibrahim telah dijatuhkan hukuman dibakar di dalam unggun api. “Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhanmu kalau kamu benar-benar ingin bertindak.”(21:68)
Maka orang-orangpun segera mengumpulkan sebanyak-banyaknya kayu bakar dengan tujuan untuk membakar Ibrahim. Kayu-kayu tersebut dikumpulkan di suatu tempat dan api pun dinyalakan. Api terus menjulang tinggi dan menyala dengan dahsyat. Dikatakan bahwa sebelum kejadian ini, tidak pernah ada api unggun sebesar itu. Nabi Ibrahim diletakkan di atas pelontar batu dan dilemparkan ke dalam api tersebut. Ibrahim A.S menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan berdoa agar diselamatkan dari kekejaman kaumnya. Ketika itu Allah berfirman kepada api, “Wahai api! Jadilah kamu sejuk dan berikan keselamatan kepada Ibrahim.” Sehingga ketika Nabi Ibrahim berada di dalam unggun api tersebut, api telah menjadi sejuk dan Ibrahim A.S terselamatkan daripadanya.
Selepas terselamatkan daripada api unggun tersebut, Nabi Ibrahim terus berdakwah kepada kaumnya dan termasuk kepada bapak beliau. Bapak Nabi Ibrahim adalah seorang pengukir berhala dan Nabi Ibrahim ingin mengajak beliau beriman. Sayangnya, bapak Nabi Ibrahim tetap enggan beriman kepada Allah. Selain itu, ia khawatir bahwa bisnisnya akan gulung tikar. Nabi Ibrahim tidak berputus asa dalam usaha dakwahnya dan terus menyeru semua orang untuk menyembah Allah yang satu.